Perhitungan Hari Raya Umat Buddha

Seluruh Hari Raya umat Buddha, selalu jatuh pada purnama sidhi. Selama ini patokan yang dipergunakan dalam menetapkan Hari Raya Waisak dan Hari Besar Buddhis lainnya di Indonesia adalah purnama sidhi berdasarkan perhitungan Astronomi yang bersifat universal, ilmiah, dan modern. Namun ibadah Hari Raya yang karena perbedaan perhitungan penanggalan yang ada, jatuhnya dapat berbeda-beda diantara bangsa-bangsa atau kelompok-kelompok tertentu, pada tanggal yang berlainan. Hal ini masih dibenarkan, karena dalam agama Buddha tidak dikenal adanya “saat” ibadah yang merupakan sah tidaknya ibadah itu.

Maghapuja

Magha adalah nama bulan chandra (lunar). Hari Besar Maghapuja biasanya jatuh pada purnama sidhi bulan Februari / Maret. Hari Besar Maghapuja dirayakan 2 minggu sesudah Tahun Baru Imlek, yang kebetulan jatuhnya bersamaan dengan perayaan Cap Go Meh.


Waisakpuja

Waisak berasal dari bahasa Sansekerta: Vaishaka dan dalam bahasa Pali: Vesakha. Hari Raya Waisak pada umumnya jatuh pada purnama sidhi di bulan Mei, namun kadang kala pada hari-hari pertama bulan Juni bila jatuh pada tahun kabisat Buddhis.

Asadhapuja

Asadha adalah nama bulan lunar kedelapan, dari bahasa Sansekerta, sedangkan bahasa Palinya adalah Asalha. Hari besar Asadha, diperingati 2 bulan sesudah Hari Raya Waisak, yang biasanya jatuh pada bulan Juli, guna memperingati kejadian yang menyangkut kehidupan Sang Buddha dan Ajarannya. Hari Besar Asadha kala purnama sidhi adalah patokan untuk memulai masa Vassa.

Masa Vassa Para Bhikkhu

Masa Vassa atau masa puasa adalah tradisi pada musim penghujan para Bhikkhu harus berdiam di suatu tempat dan mentaati aturan-aturan Vassa. Masa Vassa ini berlangsung selama 90 hari dan dimulai sehari sesudah purnama-sidhi bulan kedelapan (Asalhamasa) dan berakhir pada purnama-sidhi bulan ke-11 (Assajujamasa). Yang biasanya jatuh pada bulan Oktober.

Kathina

Hari Besar Kathina, diperingati pada purnama sidhi 3 bulan sesudah Hari Besar Asadha yang jatuh kira-kira pada bulan Oktober atau November. Upacara Kathina ini penting untuk mendorong seorang Bhikkhu menjadi Bhikkhu yang baik dan taat pada Vinaya serta mendorong umat menjadi umat yang baik dan taat pada Sila, sesuai Sabda Sang Buddha.


Tahun Kabisat Buddhis

Kalender Lunar atau Chandra Buddhis yang sudah menyesuaikan diri dengan perhitungan matahari (solar/surya) atau perhitungan Luni-Solar, sehingga setiap daur 19 Tahun terdapat 7 Tahun Kabisat Lunar dengan 7 bulan sisipan (ekstra, Lun. Adhikamasa). Adhikasuramasa dilakukan dengan metode 3 3 3 2 3 3 2 dalam kurun 19 Tahun.

Sejarah Tahun Buddhis

Tahun Buddhis atau disingkat TB atau dalam bahasa Inggris disebut Buddhist Era (B.E.) dimulai dari waktu wafatnya Sang Buddha Gautama dan mencapai Pari-Nibbana. Secara terus terang, terjadinya Pari-Nibbana (Wafat) Sang Buddha diperkirakan terjadi antara tahun 543 – 544 sebelum Masehi atas dasar perhitungan kalender Masehi sekarang ini.

Penetapan Bulan Purnama (Purnama Sidhi)

Bulan Purnama tidak selamanya jatuh pada malam hari, bisa saja jatuh pada pagi atau siang hari. Pada tanggal 15 penanggalan bulan, tidak berarti bahwa selama sehari itu bulan akan penuh terus, melainkan hanya beberapa saat saja. Sebelum dan sesudah itu bulan tidak bulat lagi, tapi karena bulan yang gelap kecil sekali secara visual bulan kelihatan bulat.